Saturday, June 3, 2017

Nice Home Work 3 : Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Bismillahirahmanirrahim, Asslamualaikum wr. wb
Seperti biasanya, setiap minggu kami para ibu pembelajar akan diberi nice hone work sebagai tantangan dan media evaluasi buat diri sendiri, kali ini nice home worknya bertema membangun peradaban dari dalam rumah dan salah satu tugasnya adalah membuat surat cinta untuk suami. Whaatss, surat cinta?

Untuk Suami
Berasa cinta monyet zaman tahun 90an yang belum ada wa dan bbm ketika ada tugas membuat surat cinta..haha

Tapi, setelah dipikir-pikir seru nih. Dan kesan pertama suami ketika saya bilang akan membuat surat cinta untuknya adalah belum baca aja udah geli katanya, tapi saya tahu di zaman abege pasti dia sering bikin surat cinta buat gebetannya..haha
Saya nulis surat ini ketika dia sedang pergi dan dikirim via WA, ceritanya udah terkirim tapi gak ada tanggapana atau balasan, ya sudah lupakan..hehe

Oke deh, langsung ya ke isi surat cinta saya ke suami yang kayak surat permohonan dana kepada wakil rektor ketika akan ada kegiatan dikampus.

Satu hari berlalu, tak ada juga tanggapan yang dia kasih. Ah, saya sih gak yakin dia mau bales dengan kata-kata apalagi sampai nulis panjang lebar, padahal andai dia tahu saya nulisnya dengan sedikit-sedikit mengusap air mata karena ada rasa haru ketika menuliskan kalimat demi kalimat, lebay ya tapi ini real terjadi..hehe
Tapi, ada kejutan ditanggal 2 Juli kemarin. Sepulangnya kami dari Cilacap yang lumayan membuat energi terkuras dan sedikit rasa ego masing-masing pun muncul dan semua memili aman dan akhirnya perdebatan kecil terjadi..hehe
Setelah berbuka, setelah tubuh disiram air mineral suhu tubuhpun mulai menurun kami berdua mulai bisa bercanda kembali dan ketika saya sibuk di dapur ada sikecil yang nganterin surat di selembar kertas yang dilipat. Saya pikir itu hanya tulisan Aulia dan saya hanya bilang simpan saja di meja.hehe
Sekitar pukul 22.00 saya mendengar sedikit percakapan dan ternyata itu adalah surat balasan dari suami saya, sontak saya lari ke dapur dan nyariin tuh kertas yang alhamdulillah masih ada. haha




Baca kata demi kata dan berusaha memahami artinya karena gak tau karena iseng atau ngetes saya supaya belajar, dia bales pakai bahasa Inggris..hihiii, antara senang dan sedih. Sedih karena dua hal, isi suratnya yang berhasil membuat saya tak kuat membendung air mata, yang kedua bahasanya..hehee gak deng yah, yang pasti saya tahu dibalik pengakuannya bahwa dia mencintai saya sepenh hati semenjak kami menikah, thanks my beloved husband, walaupun bukan dengan kata tetapi dengan perlakuan nyata, itulah caramu menunjukan arti cinta.


Untuk Anak
Teruntuk putriku tersayang, maafkan Ibumu yang selama beberapa tahun bersamamu belum mampu membersamaimu setiap waktu padahal begitu banyak waktu berlalu yang mamah sia-siakan. Maafkan Ibumu yang tanpa sengaja/ sengaja sering mendzolimimu dengan perkataan dan perbuatan, insyaallah Ibumu sdang belajar untuk meminimalisir itu semua dengan belajar bersama para Ibu lain di komunitas IIP ini. Maafkan Ibumu ini yang belum banyak mengetahui potensi-potensi hebatmu. Tapi yang mamah tahu beberapa potensi Aulia:
  1. Anaknya sensitif/ mudah mersakan apa yang mamahnya rasakan, kalau saya nangis dan ketauan olehnya, dia pasti ikut nangis, begitupun kalau saya sedang kesal atau marah diapun akan melakukan hal-hal yang luar biasa membuat rasa kesal bertambah
  2. Paling mudah mengingat akan sesuatu yang berbentuk suara, contoh lagu-lagu anak yang saya ganti liriknya dengan tema-tema islam, murrotal dan suka nyanyi sendiri.
  3. Anaknya aktif dan bisa dibilang kreatif karena ketika saya tidak punya ide bermain apapun, dia selalu ada ide, mulai dari main peran, cerita dan main-main lain sesuai dengan imajinasinya.
  4. Anaknya suka meminta agar saya menirukan apa yang dia lakukan/ memerintah/ bahsa kerennya commander, tapi insyaallah dalam hal-hal baik.
  5. Suka dengan aktivitas fisik/ motorik kasar seperti menari-nari, dia bisa nari dengan mengikuti irama. Ketika musik slow, tariannya lambat dan begitu sebaliknya, berlari intinya gak mau diem anaknya dan kalau aktifitas motorik halus tidak akan bertahan lama.
  6. Pendiriannya teguh alias ngeyel, sama kali ya seperti saya. Tapi itu suatu potensi luar biasa jika diarahkan dengan baik.
  7. Anaknya periang dan mudah bergaul ketika sudah benar-benar kenal dengan seseorang, tetapi ketika kenal hanya sekilas jangan harap mau langsung akrab.
  8. Empatinya mulai terlihat ketika saya dinyatakan hamil, dia  perhatian luar biasa apalagi ketika awal-awal hamil yang mual muntah luar biasa, dia kadang yang protes ketika saya lupa minum obat dari bidan..hehe
  9. Suka sama buku, alhamdulillah usaha saya agar dia menyukai buku sudah terlihat hasilnya.
  10. Anak yang suka ke mesjid, ah panjang kalau ini dijabarkan. Pokoknya saya kadang malu ketika dia ngajak ke masjid dan saya banyak alasan.

Masih banyak potensinya yang mungkin belum terlihat dan tergali oleh saya, Allah telah memberi potensi luar biasa kepada setiap makhluk ciptaanya dan mudah-mudahan saya bisa mempertanggungjawabkan potensi-potensi itu kepadaNya kelak.

Potensi Diri
Nah, ini dia yang membuat saya bingung karena ternyata selama ini saya sendiri tidak tahu potensi saya apa. Masih teringat jelas ketika pertama kali saya mengikuti seminar dan workshop mengenai mengenal bakat anak, kami ditanya apakah bakat/ potensi kami? Kebanyakan peserta diam termasuk saya, karena saya bingung harus menjawab apa yang artinya saya belum tahu apa potensi saya. Tetapi dikomunitas ini saya belajar untuk menemukan potensi itu, bismillah mudah-mudahan ini benar dan bisa membawa saya lebih baik :
  1. Saya orangnya sensitif alias gampang nangis/ teharu kalau mendapat hal-hal/ perlakuan yang kurang enak dihati maka cara mengeluarkannya dengan menangis, tetapi disitu saya jadi mudah merasakan bagaiamana posisi seseorang ketika dalam kesulitan dan butuh bantuan, maka saya berusaha menjadi penghibur dan penguat bagi teman-teman yang sedang mengalami hal itu.
  2. Suka dengan hal-hal berbau sosial, karena mungkin ketika saya kulaih saya berkecimpung didunia sosial.
  3. Bisa dibilang ambisius juga sepertinya, karena ketika saya sudah mengingnkan sesuatu maka sebisa mungkin harus didapatkan bagaimanapun caranya, tapi mudah-mudahan dengan cara-cara yang baik bukan dengan menghalalkan segala cara.
  4. Commander juga dalam hal-hal yang berkaitan dengan membantu orang lain, contohnya pernah bikin ide dan ngajakin teman-teman untuk membuat paket lebaran dan kadang saya memaksa mereka untuk donasi, tapi insyaalah yang dipaksa ikhlas karena teman-teman baik saya.
  5. Punya keinginan kuat untuk mendidik anak dengan tidak mengikuti gaya pengasuhan zaman orantua dulu tetapi mengikuti zaman anak saya, makanya ketika dikampung saya paling ngotot anak-anak tidak boleh menonton tayangan tv terutama sinetron.
  6. Mudah bergaul dengan siapa saja asalakan tidak dalam hal-hal negatif.

Mungkin itu beberapa diantara potensi yang saya miliki, mudah-mudahan lebih banyak lagi potensi saya miliki karena saya yakin Allah sudah memberikan potensi-potensi diri itu kepada saya. Karena saya yakin denga potensi pemberian Allah ini maka saya mampu mnghadapi segala tantangan yang ada didalam keluarga kecil kami tentunya dengan bekerja sama dengan partner hidup saya yaitu suami.

Untuk Lingkungan
Saya baru sekitar 1 tahun berada dilingkungan ini, lingkungan yang baik dan ramah serta masih dekat dengan nilai-nilai agama, dimana masjid masih ramai, majelis ilmu agama masih banyak apalagi ketika bulan Ramdhan, tampak meriah dan ramai dan tetangga-tetangga yang baik serta hangat. Tetapi tetap saja ada tantangan dibalik segala kelebihan :
  1. Lingkungannya kurang banyak anak-anak yang sebaya dengan anak saya bahkan tetangga gak ada yang punya balita, walhasil untuk mengurangi kontaminasi lingkungan Aulia banyak bermain di dalam rumah.
  2. Banyak orangtua sehingga ketika akan berbicara topik-topik yang zaman ini terjadi agak sulit apalagi jika latar pendidikan tidak begitu mendukung.
  3. Banyak anak-anak yang baru usia anak sekolah dasar sudah pegang gadget bahkan punya gadget sendiri dan kebanyakan nonton acara TV yang kurang baik maka ketika mereka bergaya dan berbicara seolah-olah sudah dewasa.

Sekilas itu yang saya lihat tantangan dilingkungan saya tinggal, tetapi kenapa ya Allah kirimkan saya dan keluarga ke lingkungan seperti ini? Saya pikir pasti ada manfaatnya diantaranya saya bisa sedikit demi sedikit bergaul dengan ibu-ibu sekitar rumah dengan mengikuti kajian, PKK, Kumpualn Dasa Wisma dan berbicara ringan seputar topik-topik kekinian terutama seputar anak, keuda bisa mengajak anak-anak khususnya beberapa teman Aulia yang sudah saya kenal keluarganya untuk bermain di rumah agar mereka bisa membaca buku dan bermain dengan mainan-mainan yang saya sediakan sehingga tidak hanya di rumah dan menonton TV. Saya lebih suka mereka bermain dirumah saya dan berantakin mainan daripada bermain dirumah mereka dan menonton TV, jadi saya bisa mengawasi dan sedikit mengajarkan mereka untuk bertanggungajwab contoh membereskan mainan/ buku ketika sudah selesai membaca.

Begitulah ulasan mengenai tema membangun peradaban dari rumah, karena bukan harta yang akan membuat kita bahagia tetapi keluarga yang memiliki peradaban yang baik.
Wassalamualaikum..

No comments:

Post a Comment