Tuesday, March 8, 2016

Kuliah WA RMA Bagian II : Invitation to Play

Resume Kuliah WhatsApp Rumah Main Anak 7

Judul Materi: Invitation to play - Lebih dari ‘sekadar’ Bermain
Tanggal: 8 Maret 2015
Pemateri: @juliasarahrangkuti
Peresume: Asrining Tyas

Invitation to play dalam bahasa Indonesia diartikan dengan ‘undangan untuk bermain’. Ya...undangan! Mengapa anak perlu diundang bermain? Bukankah dalam kesehariannya anak-anak senantiasa bermain? Bukankah dunia anak ialah bermain? Lalu, mengapa perlu diundang?

Ya, Bunda benar sekali. Dunia anak ialah bermain. Tanpa diundang pun, anak senantiasa bermain. Namun, anak-anak perlu sekali diberi ‘undangan’ untuk bermain dari orang tua maupun guru yang mendidiknya. Dalam tulisan ini, karena membahas peran orangtua dalam mendidik anak di rumah melalui berbagai permainan. Maka tentu saja yang diharapkan memberikan undangan untuk si kecil adalah Ayah/Bundanya.

Mengapa orangtua perlu membuat invitation to play untuk si kecil? Sebab, dalam proses tumbuh kembangnya, Ayah Bunda perlu mengetahui hal-hal apa saja yang harus dicapai si kecil dalam periode usia emasnya. Memang, setiap anak akan berbeda kesukaannya, perkembangannya, dan pencapaiannya. Namun, sebaiknya perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan dengan parameter yang ada. Dengan demikian, memberikan stimulasi yang sesuai dengan usia si kecil dilihat dari berbagai aspek perkembangannya sangatlah penting. Akan lebih baik lagi jika Ayah-Bunda dapat membuat agenda bermain harian untuk si kecil. Agenda ini tentunya disesuaikan dengan parameter tumbuh kembang si kecil berdasarkan usianya. Melihat secara keseluruhan segala aspek perkembangan si kecil, seperti aspek perkembangan agama dan moral, aspek perkembangan motorik kasar-halus, aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan bahasa, aspek perkembangan seni, serta aspek perkembangan sosial-emosi dan kemandirian. Dengan demikian, perlu kiranya Ayah-Bunda membuat kurikulum perkembangan anak selama setahun, lalu membuat susunan permainannya untuk sebulan dan mendetailkannya menjadi agenda mingguan dan harian 😍😍

Layaknya sebuah undangan, maka dalam membuat undangan bermain dengan si kecil pun Ayah-Bunda harus jelas menetapkan acaranya, waktunya, maupun waktunya. Bahkan, dalam undangan-undangan khusus, Ayah-Bunda juga perlu menetapkan pakaian khusus, misalnya. Berapa durasi yang dibutuhkan saat mengundang si kecil bermain, sarana bermain apa saja, perlengkapan, dan sebagainya. Bahkan, jika permainan tersebut membutuhkan lebih dari satu orang, Ayah-Bunda juga dapat mengundang teman-teman atau saudara si kecil. Menarik, bukan?

Bagaimana contohnya dalam aplikasi sehari-hari? Misalnya begini, Ayah-Bunda, dalam perkembangan anak usia 1-2 tahun, anak diharapkan telah dapat memasukkan benda-benda ke dalam wadah. Ayah-Bunda dapat membuat invitation to play  dengan menyiapkan biji-bijian seperti: kacang hijau, pipilan jagung, kacang tanah lalu menyiapkan mangkuk/botol. Ayah-Bunda lalu mengundang si kecil untuk memasukkan benda-benda tadi ke dalam wadah yang telah Ayah-Bunda siapkan. Di lain waktu, Bunda dapat mengundang anak untuk memasukkan benda-benda dengan menggunakan media corong, pipet, penjepit, dan lain sebagainya. Semakin banyak media belajar si kecil, semakin sering distimulasi, maka menjadikan si kecil semakin banyak tahu dan kaya akan pengalaman.

Maka, tunggu apalagi Ayah-Bunda? Mari, kita berikan undangan bermain untuk si kecil 
Tangerang, 2015
@juliasarahrangkuti

Tulisan ini dimuat dalam buku Rumah Main Anak karya Julia Sarah Rangkuti
---------------------
Tanya Jawab

1. Tanya: Mulai usia berapa invitation to play dapat di terapkan? Apakah anak krg dr 1 th sudah bisa? (Sofy/ kendal/usia anak 3m)

Jawab: Halo Bunda Sofy. Baiknya utk invitation to play dilakukan jika anak sdh mampu berkomunikasi 2 arah. Idealnya usia 2 tahun. Sebab di bawah usia 2 tahun anak masih fokus pd perkembangan berjalan, berbicara, juga melalui fase2 kemandirian seperti toilet training dan weaning.

Ketika anak sdh mampu diajak berkomunikasi 2 arah, akan lebih mudah menawarkan anak akan bermain apa. Ia sudah bisa memilih dan mulai bisa pelan2 diajarkan bertanggung jawab. Kemampuan nalar&logika anak juga sdh mulai terbentuk.

2.  Tanya: Invitation play seperti apa yang sesuai untuk anak di bawah 1 tahun?
(Fuji/ tangerang),

Jawab: Bunda Fuji. Untuk baby di bawah 1 tahun dapat diajak bermain yg sesuai dengan tingkat perkembangannya, seperti stimulasi indra pendengaran dan penglihatan (bisa sensory bottle), stimulasi motorik kasar untuk miring, tengkurap, duduk, maupun berdiri. Usia 9 bulan juga sudah bisa diajak bermain dengan memperkenalkan konsep objek permanensi, dll.

Nanti akan kita bahas lebih jauh saat materi perkembangan anak ya, Bun

3. Tanya:  Apakah invitation to play kepada anak harus diwaktu yang sama?
Karna saya sedang mempunyai bayi usia 1bulan dan dirumah tanpa ART. Jadi jadwal si kakak berubah-ubah tergantung keadaan si adik juga.
(Febrianti Dwisetyarini/ Purwokerto/Nama anak: Manah Jembar Membumi (22m) & Sendang Mili Migunani (1m))

Jawab:

Halo Mba Febri. Baiknya demikian, di waktu yg sama. Kalau dalam metode Montessori, ada masa saat anak "full konsentrasi" saat mereka fokus belajar. Masa ini bisa dilihat dlm rentang waktu 3 jam beraktivitas. Di rentang 3 waktu ini, akan ada masa konsentrasi tingkat tinggi yg dikeluarkan anak. Nahh..jika jadwal kita berubah2, kita agak sulit untuk mendapatkan masa full konsentrasi ini.

Namun, jika memang kondisi dan situasi tidak memungkinkan, tidak mengapa untuk tetap fleksibel sesuai dengan kondisi di rumah. Yang lebih penting ialah anak tidak terpaksa saat melakukan aktivitas apapun.


4. Tanya:
Setelah dibuat kurikulum, sebaiknya untuk anak 18-24bulan, berapa kegiatan perhari yang sesuai target kurikulum ya Mba?
(Putri Nurfita/ Bintaro, Tangerang/ 19 bulan
RMA7)

Jawab:
Halo Mba Putri, berapa kegiatan perhari disesuaikan dengan kurikulum yang Bunda buat, tentunya 😊

Apa tujuan dari kurikulum Bunda?
Langkah kurikulum yg saya buat biasanya:
-menentukan visi-misi keluarga (ini dirumuskan bersama suami). Visi misi ini nantinya akan sangat berpengaruh pd kurikulum yg kita buat. Misalnya, anak kita nanti mau seperti apa? Apakah Bunda ingin anak2 menjadi penghafal qur'an? Menjadi ilmuwan? Menjadi pengusaha? Atau skill2 apa yg seharusnya ada pd anak Bunda saat usia ini? Misal, jika usia 6 tahun maka sebaiknya anak sudah diajarkan bacaan2 sholat, ini dimasukkan dalam silabus kurikulum.
-Menentukan alat ukurnya. Misal, Bunda ingin anak usia 3 tahun sudah bisa meminta maaf. Berarti Bunda perlu membuat alat ukurnya. Contoh: "anak mampu meminta maaf saat melakukan kesalahan, anak mampu meminta maaf kepada orang yg lebih tua/muda", dst
-Mengetahui dan memahami perkembangan anak usia dini. Milestone ini dapat dilihat salah satunya dr permendikbud. Di permendikbud ini nanti Bunda akan mendapat bayangan, misal: usia 3 tahun sudah mengenal 3 waena dasar. Maka, Bunda bisa memberi stimulasi matching colour dan sorting colour di dalam pembelajarannya.
-Sebaiknya agar lebih mudah, semua hal td diturunkan menjadi kegiatan bulanan, pekanan, dan harian.
5. Tanya:  Adakah contoh kurikulum untuk usia 3-4 years? Termasuk dpresentasikan  dalam bulanan atau mingguan? Saya punya banyak ide tp bingung ketika harus dpeta2kan/(dian kumala sari/syauqi/3,5y/RMA 7)

Jawab:
Halo, Mba Dian yg luar biasa bersemangat. Seperti yang telah saya sampaikan di jawaban sebelumnya, ada step2 utk membuat kurikulum kegiatan anak. Maka, sebelum membuat kurikulum alangkah lebih baiknya jika kita observasi anak, bagaimana gaya belajarnya, minat dan bakatnya, serta kebutuhan perkembangan anak di usia tersebut. Sebab, tiap anak unik dan istimewa, idealnya kurikulum ke satu anak akan berbeda dengan anak lainnya, meskipun ia kakak beradik. Pilihan kurikulum ini juga nantinya akan disesuaikan dengan "selera" tiap keluarga. Misal, ada yg cenderung mengikuti metode Montessori, ada yg bebas2 saja, ada yg menggunakan Charlotte Mason, dll. Jadi, Bunda bisa sesuaikan juga "selera metode pengajaran Bunda" dgn kebutuhan anak. Saya share kegiatan mingguan Kenzie utk contoh ya Mba. Tp sangat bisa divariasikan sesuai dengan visi misi keluarga masing2

No comments:

Post a Comment